Website: http://www.majalah-farmacia.com

Oral Kontrasepsi untuk Atasi Hiperandrogen
GERAI - Vol.8 No.8, Maret 2009

Pil kontrasepsi yang mengandung estrogen dan progesterone sintetis, ternyata tak hanya efektif mencegah kehamilan. Beberapa gejala hiperandrogen seperti jerawat dan hirsutisme juga bisa diatasi.

Hiperandrogen merupakan kasus yang sering ditemui pada perempuan. Penyakit ini merupakan salah satu kelainan endokrin atau endokrinopati yang mempengaruhi 10% - 20% wanita usia reproduktif. Hiperandrogen dikarakteristikkan dengan kerja androgen yang berlebihan. Pada wanita, kelebihan kadar androgen dapat bersifat ovarian atau adrenal. Tetapi Banyak wanita dengan kadar androgen darah normal ternyata memiliki masalah kulit. Hal ini kemungkinan karena peningkatan sensitivitas reseptor terhadap androgen.

Seperti dijelaskan Dr. Dian Sri Hartati SpKK, masalah di kulit seperti jerawat berlebihan merupakan salah satu gejala hiperandrogen. Tingginya "hormon pria" ini menyebabkan produksi lemak di kulit menjadi berlebihan yang memicu timbulnya peradangan di kulit atau jerawat (akne). Empat fase penting timbulnya akne adalah adanya hiperkeratinisasi folikular, diikuti peningkatan produksi sebum, trejadilah inflamasi dan kolonisasi bakteri. Propionibacterium acnes

Ditambahkan Dr. Frizar Irmasyah SpOG, gejala hiperandrogen pada wanita bervariasi. Untuk gejala yang nampak pada kulit dan rambut, misalnya kulit berminyak bahkan jerawat, hirsutisme/male hair pattern, dan ketombe yang bisa menyebabkan kebotakan.

Pada wanita hiperandrogen banyak dikaitkan dengan PCOS (poly-cystic-ovarian-syndrome). PCOS ditandai dengan gangguan siklus menstruasi, amenore, anovulasi. Wanita yang mengelami PCOS biasanya juga obes (kegemukan) karena abnormalitas metabolisme tubuh seperti resistensi insulin yang meningkatkan resiko kencing manis (DM = diabetes mellitus), memiliki profil lemak yang tidak normal, dan peningkatan risiko kardiovaskular.

Penyebab masalah hiperandrogen pada wanita, tambah Frizar, karena ada peningkatan sekresi testosteron dari ovarium/adrenal, peningkatan kadar androgen bebas yang beredar dalam darah yang tidak terikat pada proteinnya/SHBG (sex hormone binding globulin), adanya peningkatan aktivitas enzim 5a-reductase di target organ (misal peningkatan produksi testosteron aktif atau dihidrotestosteron), dan peningkatan sensitivitas target organ terhadap DHT.

Hiperandrogen bisa diatasi dengan pemberian pil kontrasepsi yang mengandung Ethynil estradiol dan Cyproteron acetate (CPA 2 mg / EE 35 µg), terutama untuk mengatasi masalah di kulit seperti kulit berminyak, jerawat, seborea, hirsutisme, dan alopecia/ kebotakan androgenetik. CPA memiliki efek anti-androgenik yang diperkuat dengan aktivitas anti-gonadotropik kombinasi.

Kontrasepsi oral yang mengandung EE/CPA ini memiliki mekanisme kerja mengatur hormone estrogen dan progesteron (hormon reproduktif). "Dia menghambat estrogen alami dan produksi progesteron oleh ovarium, sehingga menghambat proses pertumbuhan dan pelepasan folikel," tambah Frizar dalam sebuah acara media edukasi pada 14 Februari lalu, di Anyer, Banten.

CPA sebagai anti-androgen, secara kompetitif akan mengikat reseptor androgen sehingga menurunkan kadar androgen bebas. Hal ini bisa mengurangi jerawat baru dan bintik hitam, dam mengurangi tumbuhnya rambut yang menyerupai pola rambut pria.

Dari sisi keamanan, penelitian menunjukkan, penggunaan kontrasepsi oral yang mengandung EE/CPA setelah siklus ke-36, cukup aman. 80% pengguna tidak mengalami kenaikan BB > 2 kg. Pada fungsi metabolisme, pil kontrasepsi ini sedikit meningkatkan trigliserida. Tetapi LDL menurun dan HDL meningkat. Fungsi hati yang dilihat dari SGOT, SGPT, Gamma GT, dan LAP, tidak menunjukkan perubahan. Selain itu tidak ada perubahan yang signifikan pada homeostatis. (ana)


Taken from : /rubrik/one_news_print.asp?IDNews=1142 | 681 hits