Katarak senilis akibat
degenerasi lensa mata, juga melibatkan proses stres oksidatif.
Pengobatan dengan sediaan pirenoxine bisa dijadikan pilihan.
Katarak merupakan salah satu penyakit mata penyebab kebutaan
dengan jumlah penderita cukup banyak. Penyakit ini ditandai dengan
lensa mata menjadi kabur dan keruh sehingga cahaya terhalang masuk ke
retina. Berdasarkan penyebabnya, katarak dibagi menjadi empat. Yaitu,
katarak kongenital, katarak komplikata, katara senilis dan katarak
traumatik.
Katarak senilis terjadi akibat
proses degenerasi penuaan, jumlahnya hingga 90 persen dari seluruh
kasus katarak. Proses degenerasi bisa dimulai di usia 35 tahun namun
gejala awal umumnya muncul pada orang-orang setengah baya berupa
pandangan yang mulai kabur.
Katarak senilis masih
menjadi penyebab kebutaan utama di seluruh dunia. Setidaknya ada 5-10
juta kebutaan akibat katarak ini setiap tahunnya. Dengan teknik operasi
terbaru, hanya 100.000-200.000 yang bisa disembuhkan.
Patofisiologi di balik terjadinya katarak senilis amat
kompleks dan belum sepenuhnya dimengerti. Namun ada beberapa
kemungkinan di antaranya terkait usia lensa mata yang membuat berat dan
ketebalannya bertambah, sementara kekuatannya menurun. Kerusakan lensa
pada katarak senilis juga dikaitkan dengan kerusakan oksidatif yang
progresif. Beberapa penelitian menunjukkan peningkatan produk oksidasi
seperti oxidized glutathione dan penurunan antioksidan (vitamin) dan
enzim superoksidase. Teori stres oksidatif pada katarak disebut
kataraktogenesis.
Terkait teori stres oksidatif
sebagai penyebab katarak, lantas dibuat agen pelindung mata dari
antioksidan. Misalnya pirenoxine yang merupakan turunan xantomatin.
Dalam uji in vitro, pirenoxine bisa menghambat peroksidasi lipid dengan
melibatkan iron dan hemoglobin, pada lensa mata marmut.
Pirenoxine akan membuat efek saat oksidasi lensa dimasukkan,
misalnya oksidase atau fMLP yang distimulasi makrofag. Dalam semua uji
in vitro, nilai dari penanda peroksidasi biokimia lipid, seperti
hidroperoksidase lipid atau substansi reaktan tiobarbiturat, menurun ke
nilai basal dengan penambahan pirenoxine. Saat dua tetes (60 μl) cairan
molekular pirenoxine diteteskan ke mata kelinci (setiap jam selama 8
jam dalam waktu lebih 2 hari), maka inti lensa memiliki pertahanan yang
lebih baik melawan peroksidadi lipid invitro. Data eksperimental ini
bisa menjadi perangkat efektif melawan serangan oksidasi di lensa, yang
akan menyebabkan katarak.
Obat tetes mata dengan
pirenoxine kini sudah dikembangkan dan banyak digunakan di Jepang.
Pengembangan obat tetes mata berbahan pirenoxine berdasarkan pada
quinoid theory yang merupakan salah satu teori terjadinya katarak
senilis. Penggunaan obat tetes mata pirenoxine untuk katarak sudah
disetujui.
Produk terbaru obat tetes mata
pirenoxine dibuat dengan mengabungkan granul dan pelarut dalam satu
botol. Hal ini akan memudahkan pasien saat penggunaan dan mencegah
salah penggunaan pada waktu pencampuran granul dan pelarut. Pirenoxine
dalam cairan pelarut ini sudah lebih stabil sehingga bisa disimpan di
temperatur ruang hingga tiga tahun.
Studi oleh
Horiuchi dkk menunjukkan obat tetes mata suspensi pirenoxine cepat
larut dalam air mata setelah diteteskan dalam 10 detik dan tidak
menyebabkan iritasi mata. Sedangkan Murata melaporkan suspensi oftalmik
terbukti memiliki bio-ekuivalnesi setara dengan pirenoxine larutan
oftlamik. Komposisi pirenoxine terbukti dapatmencegah perburukan
kekeruhan lensa.