3 September 2010
Halaman Depan Farmacia
Forum diskusi Farmacia
Alamat Redaksi Farmacia
Berlangganan online Majalah Farmacia
   
MEMBER LOGIN
UID :
PWD :
   
Forget password?
Home
Artikel Terbaru
AULA
KILAS
RACIKAN UTAMA
MEDIKAMENTOSA
PROMINENSIA
RACIKAN KHUSUS
ETIKOLEGAL
GERAI
BEJANA
SIMPOSIA
KASUS
INFO BPOM
ETALASE
ALBUM
TEKNIKA
PUSTAKA
FITOFARMAKA
ULAS OBAT
KOLOM
UNIVERSITARIA
ADVERTORIAL
Berita Farmacia
Arsip Majalah
Katalog Buku
Pasang Iklan
Hubungi Kami

  















Oftamologi:
Suspensi Oftalmik untuk Katarak Senilis
Print this article Email this article to friend
GERAI - Edisi Juni 2008 (Vol.7 No.11)

Katarak senilis akibat degenerasi lensa mata, juga melibatkan proses stres oksidatif. Pengobatan dengan sediaan pirenoxine bisa dijadikan pilihan.

Katarak merupakan salah satu penyakit mata penyebab kebutaan dengan jumlah penderita cukup banyak. Penyakit ini ditandai dengan lensa mata menjadi kabur dan keruh sehingga cahaya terhalang masuk ke retina. Berdasarkan penyebabnya, katarak dibagi menjadi empat. Yaitu, katarak kongenital, katarak komplikata, katara senilis dan katarak traumatik.

Katarak senilis terjadi akibat proses degenerasi penuaan, jumlahnya hingga 90 persen dari seluruh kasus katarak. Proses degenerasi bisa dimulai di usia 35 tahun namun gejala awal umumnya muncul pada orang-orang setengah baya berupa pandangan yang mulai kabur.

Katarak senilis masih menjadi penyebab kebutaan utama di seluruh dunia. Setidaknya ada 5-10 juta kebutaan akibat katarak ini setiap tahunnya. Dengan teknik operasi terbaru, hanya 100.000-200.000 yang bisa disembuhkan.

Patofisiologi di balik terjadinya katarak senilis amat kompleks dan belum sepenuhnya dimengerti. Namun ada beberapa kemungkinan di antaranya terkait usia lensa mata yang membuat berat dan ketebalannya bertambah, sementara kekuatannya menurun. Kerusakan lensa pada katarak senilis juga dikaitkan dengan kerusakan oksidatif yang progresif. Beberapa penelitian menunjukkan peningkatan produk oksidasi seperti oxidized glutathione dan penurunan antioksidan (vitamin) dan enzim superoksidase. Teori stres oksidatif pada katarak disebut kataraktogenesis.

Terkait teori stres oksidatif sebagai penyebab katarak, lantas dibuat agen pelindung mata dari antioksidan. Misalnya pirenoxine yang merupakan turunan xantomatin. Dalam uji in vitro, pirenoxine bisa menghambat peroksidasi lipid dengan melibatkan iron dan hemoglobin, pada lensa mata marmut.

Pirenoxine akan membuat efek saat oksidasi lensa dimasukkan, misalnya oksidase atau fMLP yang distimulasi makrofag. Dalam semua uji in vitro, nilai dari penanda peroksidasi biokimia lipid, seperti hidroperoksidase lipid atau substansi reaktan tiobarbiturat, menurun ke nilai basal dengan penambahan pirenoxine. Saat dua tetes (60 μl) cairan molekular pirenoxine diteteskan ke mata kelinci (setiap jam selama 8 jam dalam waktu lebih 2 hari), maka inti lensa memiliki pertahanan yang lebih baik melawan peroksidadi lipid invitro. Data eksperimental ini bisa menjadi perangkat efektif melawan serangan oksidasi di lensa, yang akan menyebabkan katarak.

Obat tetes mata dengan pirenoxine kini sudah dikembangkan dan banyak digunakan di Jepang. Pengembangan obat tetes mata berbahan pirenoxine berdasarkan pada quinoid theory yang merupakan salah satu teori terjadinya katarak senilis. Penggunaan obat tetes mata pirenoxine untuk katarak sudah disetujui.

Produk terbaru obat tetes mata pirenoxine dibuat dengan mengabungkan granul dan pelarut dalam satu botol. Hal ini akan memudahkan pasien saat penggunaan dan mencegah salah penggunaan pada waktu pencampuran granul dan pelarut. Pirenoxine dalam cairan pelarut ini sudah lebih stabil sehingga bisa disimpan di temperatur ruang hingga tiga tahun.

Studi oleh Horiuchi dkk menunjukkan obat tetes mata suspensi pirenoxine cepat larut dalam air mata setelah diteteskan dalam 10 detik dan tidak menyebabkan iritasi mata. Sedangkan Murata melaporkan suspensi oftalmik terbukti memiliki bio-ekuivalnesi setara dengan pirenoxine larutan oftlamik. Komposisi pirenoxine terbukti dapatmencegah perburukan kekeruhan lensa.


Seperti tercetak di Majalah Farmacia Edisi Juni 2008 , Halaman: 46 (3368 hits)

Kirimkan Komentar Anda
Nama :
Email :
Komentar Anda :
   
 Ubah image
 Tulis karakter tertulis diatas