Penyakit Kawasaki memiliki dampak seumur hidup, karena itu perlu ditangani sejak awal untuk meminimalisir kerusakan pada jantung dan pembuluh darah.
Penyakit Kawasaki (Kawasaki Disease/KD) pertama kali didiskripsikan oleh Dr. Tomisaku Kawasaki pada tahun 1967 di Jepang. Di Indonesia sering disebut sebagai penyakit jantung rematik. DR. Dr. Najib Advani dkk dalam International Symposium on Kawasaki Disease di San Diego, Amerika, Februari 2005 lalu, melaporkan kondisi penyakit Kawasaki di Indonesia. Tahun 2005, belum ada laporan adanya penyakit Kawasaki dari Indonesia. Dr. Najib yang merupakan pakar penyakit jantung anak dari FKUI/RSCM bersama rekan-rekan kemudian melakukan penelitian studi restropektif pada dua rumah sakit di Jakarta. Penelitian bertujuan untuk menemukan pasien dengan pola-pola penyakit Kawasaki. Ditemukan 27 pasien yang dikonfirmasi secara klinis terdiagnosa sebagai penyakit Kawasaki.
Sejak itu, menurut Najib, Indonesia dinyatakan masuk peta Kawasaki dunia. Dari pengalaman Najib, penyakit ini masih belum dikenal di Indonesia. Perkiraan insiden penyakit Kawasaki adalah 6000 kasus per tahun. “Tetapi yang terdiagnosa kurang dari 100 kasus per tahun,” jelas Najib di hadapan sekitar 2500 peserta Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Kesehatan Anak ke-3, Ikatan Dokter Anak Indonesia (PIT IKa-3 IDAI) di Yogyakarta, 6-9 Mei lalu.
Menurut Najib, sejak kasus pertama penyakit Kawasaki, dilaporkan, ia dan sejawatnya giat berkampanye tantang penyakit ini. Selain menulis di buku, ia juga bicara di radio dan televisi tentang penyakit Kawasaki. Hasilnya, menurut Najib, jumlah kasus yang terdiagnosa meningkat secara perlahan. ’Tetapi tetap saja jauh dari yang diharapkan. Kami sungguh khawatir pada kasus-kasus yang tidak terdiagnosa. Dibutuhkan upaya yang amat keras untuk membuat seluruh dokter tahu dan peduli dengan penyakit ini,” ujar Najib dalam Asia-Pacific Pediatric Cardiology and Cardiac Surgery, di Bangkok Thailand, tahun lalu.
Komplikasi Penyakit Kawasaki atau Kawasaki Disease (selanjutnya disingkat KD saja) yang berbahaya adalah aneurisma arteri koroner. Komplikasi ini menimpa 20-40% pasien. KD merupakan jenis penyakit jantung paling sering terjadi pada anak-anak di negara maju. Jepang adalah negara dengan kasus KD tertinggi, yaitu 125.000 kasus sampai tahun 1999. Di Asia, terutama Jepang dan Korea, insiden KD sekitar 100 kasus per 100.000 anak-anak berusia kurang dari 5 tahun. Anak laki-laki lebih sering dibandingkan anak perempuan (1,5 : 1). Di Indonesia, dari 6000 kasus per tahun, 80% terjadi pada anak di bawah 4 tahun. Jarang menimpa anak di bawah 3 bulan atau di atas 8 tahun.
Kriteria Diagnostik
Kriteria diagnostik untuk KD, menurut Najib, adalah demam remiten selama 5 hari atau lebih, konjungtivitis bilateral (tanpa eksudat), kemerahan di mulut dan bibir juga seluruh rongga mulut, lidah stroberi serta bibir pecah-pecah. Kriteria lain, perubahan di tangan dan kaki berupa eritema dan edema pada fase akut, pengelupasan kulit pada jari-jari tangan dan kaki pada fase sub akut, dan adanya polimurfus exantema. Selain itu juga terdapat limfadenopati servikal yang unilateral (>1.5 cm). Kemungkinan KD perlu dipikirkan jika terdapat demam disertai 4 atau lebih dari lima kriteria tersebut.
Untuk memudahkan kriteria diagnostik KD sering digunakan jembatan keledai My HEART. Yaitu Mucosal changes (eritema), Hand and foot changes (eritema dan edema0, Eye change (konjungtivitis), Adenopathy unilateral, Rash (polymorph exanthema) dan Temperature (remittent)
Fase penyakit Kawasaki dikelompokkan menjadi fase akut (10 hari pertama), fase subakut (11-25 hari) dan fase konvalesen (di atas 25 hari).
Komplikasi KD yang paling ditakuti adalah efeknya pada arteri koroner yang bisa menyebabkan kerusakan permanen. Aneurisma arteri koroner (CAA) terjadi pada 20-40% KD yang tidak diterapi dengan baik. Angka kematian biasanya sekitar 1-5%. ”Hingga saat ini satu-satunya terapi yang paling efektif adalah pemberian imunoglobulin. Terapi imunoglobulin bisa mengurangi CAA sekitar 5-6%,” jelas Nasib.
50% CAA akan regresi dalam waktu 5 tahun karena kemampuan koroner untuk remodeling. Tapi biasanya ini berlaku untuk aneurisma yang relatif kecil. Regresi aneurisma menimbulkan penebalan intima dan disfungsi endotel yang akan menyebabkan aterosklerosis prematur. ”CAA yang tidak mengalami regresi bisa menyebabkan trombus, stenosis, atau penyumbatan dan meningkatkan risiko infak miokardial,” tambah Najib. Di sinilah muncul pendapat untuk memonitor pasien KD seumur hidupnya.
Faktor-faktor risiko terjadinya aneurisma koroner adalah pria, menderita KD di bawah usia 1 tahun dan adanya gejala gangguan perikardial, miokardial, atau endokardial, termasuk aritmia. Selain itu terjadi inflamasi jangka panjang, termasuk demam lebih dari 10 hari. Demam berulang setelah terjadi periode tanpa demam sedikitnya 24 jam .
Dampak dan pengobatan KD
Enam penelitian yang melibatkan 1629 pasien memperlihatkan prevalensi aneurisma arteri koroner pada tahap penyembuhan dengan penggunaan aspirin atau imunoglobulin (IVIG). Dengan pengobatan aspirin saja, prevalensi aneurisma sekitar 14.7%. Kemudian dengan aspirin plus < 1 g/kg IVIG : 8,6%. Aspirin plus 1-1,2 g/kg IVIG : 7%, aspirin plus 1,6 g/kg IVIG : 3,7%, aspirin plus 2 g/kg IVIG : 2,6%. Dari studi oleh Terai dkk ini memperlihatkan keefektivan terapi dengan IVIG.
Penelitian oleh Moran dkk terhadap 25 pasien KD dilakukan untuk menilai keefektifan IVIG pada miokardial yang abnormal. Sebelum diterapi dengan IVIG, kontraktilitas ventrikel kiri hanya 56% namun setelah diterapi IVIG meningkat menjadi 86%. Semua pasien menjadi normal dalam waktu di atas 12 bulan.
Penyakit Kawasaki menyebabkan kondisi patologis berupa perubahan pada dimensi luminal, struktur vaskular, fungsi vaskular, kecukupan aliran darah, aterosklerosis dan faktor-faktor risikonya, yang semuanya berdampak terhadap mortalitas. Kematian bisa terjadi segera setelah onset, atau bertahun-tahun kemudian tergantung seberapa besar penyakit ini menginvasi sistem koroner.
Dampak jangka panjang penyakit Kawasaki telah diteliti oleh Kato dkk. Ia memonitor 594 penderita selama 10-21 tahun, dengan rata-rata pemantauan 13,6 tahun. Pemeriksaan angiografi pertama menunjukkan sebanyak 146 (25%) penderita KD mengalami aneurisma. Pemeriksaan angiografi 1-2 tahun kemudian menujukkan 49% aneurisma mengalami regresi, 51% persisten, dan 18% mengalami stenosis. Dari 74 pasien yang mengalami aneurisma persisten, 14 di antaranya mengalami stenosis pada pemeriksaan angiografi kedua, 14 lagi didiagnosa stenosis pada pemeriksaan berikutnya. Jadi sebanyak 38% pasien dengan aneurisma persisten mengalami stenosis. Kato juga menemukan 11 pasien mengalami infark miokardial (1,9%). 5 pasien tanpa MI menjalani bypass dan 5 meninggal karena MI.
Baker dkk meneliti kasus infark miokardial pada pasien KD. Ada 195 kasus MI yang diteliti, 73% Mi muncul di tahun pertama sejak didiagnosa KD, 72% pasien laki-laki. 65% MI terjadi saat istirahat atau tidur, 37% asimptomatik, 22% meninggal saat serangan Mi pertama, dan 16% pasien yang selamat dari serangan Mi pertama, mengalami MI. Kebanyakan survivor MI mengalami disfungsi ventrikel kiri atau aneurisma.
Anak-anak dengan KD memiliki kondisi fisik dan psikososial yang berbeda dengan anak yang sehat. Namun dalam penelitian Baker dkk., ternyata 110 dari 201 penderita KD berusia 5-18 tahun yang melengkapi Child Health Questionnaire, tidak memiliki perbedaan psikososial dengan anak normal, tetapi memiliki persepsi umum kesehatan yang lebih rendah, seperti mengalami kecemasan, alergi, dan masalah persendian/tulang lebih besar. Tetapi untuk tingkah laku, minat, dan belajar, tidak ada perbedaan antara penderita KD dengan anak lain yang sehat.
Penyakit Kawasaki juga mesti dibayar mahal secara finansial. Imunoglobulin (IVIG) sebagai satu-satunya obat, masih sangat mahal. Harganya sekitar Rp 900.000 per gram. Padahal dosis yang harus diberikan adalah 2 gram/kg berat badan, dan 10% pasien membutuhkan dosis ulangan. ”Di Indonesia kebanyakan tidak ditanggung asuransi,” kata Najib. Belum lagi biaya pemeriksaan yang mahal seperti EKG, angiografi, MRI, dan MSCT. Tindakan yang dilakukan seperti pemasangan stent atau balonisasi juga amat mahal. Pasien KD juga harus dimonitor seumur hidup. Bila mengalami aterosklerosis dini, maka akan ada biaya pengobatan tambahan.
(ana)