31 Juli 2010
Halaman Depan Farmacia
Forum diskusi Farmacia
Alamat Redaksi Farmacia
Berlangganan online Majalah Farmacia
   
MEMBER LOGIN
UID :
PWD :
   
Forget password?
Home
Artikel Terbaru
AULA
KILAS
RACIKAN UTAMA
MEDIKAMENTOSA
PROMINENSIA
RACIKAN KHUSUS
ETIKOLEGAL
GERAI
BEJANA
SIMPOSIA
KASUS
INFO BPOM
ETALASE
ALBUM
TEKNIKA
PUSTAKA
FITOFARMAKA
ULAS OBAT
KOLOM
UNIVERSITARIA
ADVERTORIAL
Berita Farmacia
Arsip Majalah
Katalog Buku
Pasang Iklan
Hubungi Kami

  















Penggunaan IVIG dalam Kasus-kasus Neurologi 
Print this article Email this article to friend
GERAI - Edisi Januari 2006 (Vol.5 No.6)

Penggunaan IVIG berdampak besar terhadap pemulihan pada kasus-kasus penyimpangan autoimun (autoimun disorder) dan meningkatkan kualitas hidup bagi penderitanya

Penggunaan intravena immunoglobulin (IVIG)di bidang neurologi menjadi topik menarik pada pertemuan pakar neurologi di Singapura, Oktober tahun silam. Menurut Prof. Andrew J Kornberg, Chairman Asia Pacific IVIG Advisory Board, ahli neurologi terkemuka di kawasan Asia Pasifik, pertemuan pakar tersebut merupakan upaya untuk mendukung para dokter dan ahli neurologi dalam aplikasi lebih jauh mengenai penggunaan IVIG .

IVIG adalah preparat protein antibodi yang berasal dari sel darah dan plasma yang diambil dari donor. IVIG diberikan secara intra vena untuk mensubtitusi protein antibodi pada defisiensi protein dan mendorong antibodi dalam merespon infeksi. Immune globulin G (IgG) adalah komposisi utama dalam immunoglobulin yang digunakan untuk menghambat racun, virus dan bakteri. Defisiensi Imunitas dapat disebabkan oleh penyimpangan genetik, infeksi yang menyerang sistem antibodi atau pengobatan (kemoterapi). Defisiensi Imunitas yang paling umum adalah Idiopathic Thrombocytopenic Purpura (ITP), Primary Immunodeficiency (PID), Chronic Lymphocytic Leukemia (CLL), dan Sindrom Kawasaki. Beberapa defisiensi dapat disebabkan oleh pengobatan seperti kemoterapi atau transplantasi sum-sum tulang.

Aplikasi penggunaan IVIG sendiri telah diteliti pada awal tahun 1990. Dimana, di tahun 1993 telah dilakukan studi terhadap penderita dermatomyositis yang mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas gerak sehari-hari dengan melibatkan 15 orang pasien. Pasien-pasien tersebut diberi IVIG dan plasebo. Setelah melewati masa terapi, ada beberapa pasien mengalami perkembangan ke arah pemulihan, tapi ada pula di antaranya yang tidak mengalami perubahan atau tidak merespon IVIG.

Studi di bidang neurologi menunjukan bahwa penggunaan IVIG berdampak besar terhadap pemulihan pada kasus-kasus penyimpangan autoimun (autoimun disorder) dan meningkatkan kualitas hidup bagi penderitanya. Keberhasilan dalam sejumlah kasus neurologi menjadi acuan untuk dapat diterapkan pada kasus yang lain

Oleh karena itu, agar pemakaian IVIG sesuai standar pengobatan, berbagai guideline penggunaan IVIG dibuat oleh lembaga-lembaga medis. Di antaranya, INDAPS (IVIG In Neurological Disease 1st Asia Pacific Symposium). Buku ini dimaksudkan sebagai wadah bukti-bukti penelitian yang telah dilakukan, kesepakatan para pakar yang telah melakukannya dan evaluasi yang mendalam sehingga dapat dijadikan referensi dalam mengatasi kasus yang sama. Penggunaan panduan yang sama, paling tidak mampu menghasilkan standar pengobatan yang tidak jauh berbeda, meski tiap tenaga medis memiliki interpretasi dalam menghadapi masalah dengan kekhasannya masing-masing.

Tak kurang dari 13 kasus dikaitkan dengan penggunaan IVIG dibahas dalam INDAPS, antara lain, Guillain Barre Syndrome, Chronic Inflamantory Demyelinating Polyneuropathy, Multifocal Motor Neuropathy, Amyotrophic Lateral Sclerosis, Myasthenia Gravis, dan lain-lain. Meski hanya 91 halaman, semua kasus dibahas mulai dari latar belakang dari gangguan (paparan singkat penyakit), proses diagnosa penyakit, studi terkait (tinjauan studi), terapi selain IVIG (terapi umum), dosis rekomendasi, kesepakatan para ahli, dan referensi terkait

Dengan prinsip tepat guna, memaksimalkan keuntungan dengan risiko yang kecil serta harga terjangkau, panduan ini merupakan harta berharga bagi pasien, praktisi dan yang lebih khusus lagi pada sumber-sumber yang terkait seperti produsen obat. (Sumber: INDAPS)


Seperti tercetak di Majalah Farmacia Edisi Januari 2006 , Halaman: 42 (906 hits)

Kirimkan Komentar Anda
Nama :
Email :
Komentar Anda :
   
 Ubah image
 Tulis karakter tertulis diatas