Dokter sepertinya perlu berhati-hati memberikan obat antidepresan pada wanita hamil. Sebuah studi baru dari University of Montreal, Kanada, menemukan perempuan yang mengambil golongan antidepresan tertentu selama masa kehamilan dapat meningkatkan risiko keguguran hingga 68 persen.
Studi kontrol kasus Kanada (The Canadian Case-Control) yang dilakukan pada lebih dari 5.000 wanita menunjukkan bahwa dengan mengontrol faktor-faktor lain yang terkait dengan keguguran, konsumsi antidepressan yang dikenal sebagai SSRIs selama kehamilan menyebabkan peningkatan risiko keguguran.
Anick Berard, seorang profesor di University of Montreal yang juga kepala peneliti mengungkapkan hingga 20 persen wanita tersebut akan mengalami keguguran karena berbagai alasan selama kehamilan. Namun hasil studi menunjukkan bahwa SSRIs sebagai kelas yang meningkatkan risiko tersebut.
Penelitian ini menurutnya secara jelas juga menunjukkan bahwa obat-obatan tersebut, dibanding (rather than) depresi dan kecemasan para ibu, berhubungan meningkatnya risiko keguguran.
Antidepresan yang paling sering digunakan menurut Berard adalah selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs). Di antaranya, paroxetine (Paxil) dan venlafaxine (Effexor) dikaitkan dengan 51 persen peningkatan risiko keguguran.
Risiko keguguran juga meningkat dengan lebih tingginya dosis harian dari obat-obatan ini. Selain itu, penggunaan kombinasi antidepresan berbeda juga melipatkan risiko keguguran. Demikian menurut para peneliti.
Meski demikian, penulis editorial mencatat bahwa temuan ini masih jauh dari definitif. Menurut Adrienne Einarson, asisten direktur motherisk programe di Rumah Sakit bagi anak-anak sakit di Toronto, temuan tersebut lebih berkaitan dengan asosiasi dan bukan sebagai penyebab. "Kami masih tidak tahu apakah itu (karena) depresinya atau obatnya," ujarnya.
Selama ini, penggunaan antidepressant cukup umum pada masa kehamilan. Sekitar 3,7 persen wanita meminum obat tersebut selama trimester pertama. Menghentikan pengobatan dapat menyebabkan kembalinya depresi dan gejala lainnya, juga studi efek obat pada janin sebelumnya sangat kecil dan memiliki hasil yang bertentangan.
Einarson mengungkapkan bahwa risiko diungkap oleh penelitian ini sangatlah kecil dan bukan menjadi alasan untuk menghentikan minum antidepresan jika memang dibutuhkan.
Ahli lain, Dr Saleh Yasin, profesor dan vice chair of obstetrics and gynecology di University of Miami Miller School of Medicine, mengatakan bahwa penelitian ini dapat bermanfaat dalam membimbing dokter menasihati pasien. Pertama, orang harus menentukan apakah seorang wanita harus mengambil obat antidepresi atau tidak. "Ada banyak orang yang mengalami depresi, tetapi tidak memerlukan obat, dengan pasien yang membutuhkan obat-obatan, seseorang harus memilih dosis terendah yang yang memiliki sedikit kaitan dengan keguguran," kata Yasin. Laporan ini diterbitkan dalam Canadian Medical Association Journal edisi 31 Mei.